h1

Overcoming Procrastination…

Desember 28, 2007

pro·cras·ti·nate (prō-krās’tə-nāt’, prə-) Pronunciation Key
v. pro·cras·ti·nat·ed, pro·cras·ti·nat·ing, pro·cras·ti·nates

v. intr.
To put off doing something, especially out of habitual carelessness or laziness.

v. tr.
To postpone or delay needlessly.

Procrastination. Menunda-nunda.

Sepertinya ini masalah yang dihadapi banyak banget orang. Dibahas di situs pengembangan diri, blog, sampai status YM pun sering berisi “procrastinating” atau semacamnya. Penyebabnya juga macam-macam, mulai dari males menghadapi beban berat, menganggap enteng, banyak pikiran, banyak kerjaan, gabungan semua itu, dan lain-lain. Dan kalau udah berlarut-larut akibatnya cukup berat. Bisa stress, depresi, merasa diri payah, nggak berguna, hidup terasa stagnan, dll., dll.

Gua sendiri juga bisa dibilang sering menunda-nunda. Biasanya kalau itu terjadi, dalam pikiran gua yang keluar adalah kata-kata macam ini:

“Besok aja ah”
“Nyerahinnya kan masih lama…”
“Pusiinnnggg… refreshing dulu”
“Bahannya belum cukup ah, cari dulu”
“Satu game aja” atau “Satu episode aja” (padahal ujung-ujungnya tiga, haha)

Salah satu penyebab utama gua nunda-nunda adalah Internet, terutama YM sama situs social networking macam Friendster dan Facebook. Setiap kali mau ngerjain sesuatu yang lebih berguna, malah jadinya chatting atau liat-liat update terbaru dari teman-teman gua, haha…

Terus, sesuai judul post ini, gimana mengatasinya? Salah satu artikel yang cukup menarik tentang procrastination yang pernah gua baca itu judulnya Overcoming Procrastination karangan Steve Pavlina. Dia ngasih cara pandang yang (paling nggak buat gua) baru tentang menunda, yaitu bahwa menunda itu sebenarnya merupakan mekanisme diri manusia secara bawah sadar untuk menghindari penderitaan. Dari situ, dia menawarkan beberapa solusi untuk membantu menghilangkan kebiasaan menunda. Kalau nggak mau baca bahasa Inggris, di sini gua coba kasih intisarinya dalam bahasa blog ini, hehe…

1. Ubah pemikiran “harus melakukan” dengan “ingin melakukan”

Sebenarnya manusia itu makhluk yang nggak mau diatur. Kalau kita berpikir bahwa kita “harus” melakukan sesuatu, maka tanpa sadar kita akan merasa bahwa ada “kekuatan pengendali” yang “memaksa” kita untuk melakukannya, sehingga kita menggunakan procrastination untuk menghindari pemaksaan ini. Ketika udah dekat deadline, barulah bawah sadar kita menyadari bahwa penderitaan bila tugas itu nggak selesai lebih berat daripada penderitaan dalam mengerjakannya, dan barulah kita terdorong untuk mulai kerja.

Untuk mengatasi hal ini, coba yakinkan diri kita bahwa seberat apapun konsekuensinya, kita nggak harus mengerjakan apapun yang kita nggak mau kerjakan. Pilihan sepenuhnya di tangan kita, dengan konsekuensinya masing-masing. Yakinkan diri kita bahwa melaksanakan tugas adalah pilihan kita sendiri untuk kebaikan kita sendiri, bukan merupakan paksaan dari siapa pun. Kalaupun disuruh sama bos, kita ngerjainnya biar terus dapat gaji juga kan?

2. Ubah pemikiran “segera selesaikan” dengan “segera mulai”

Kalau kita memandang sebuah tugas sebagai sesuatu yang harus “diselesaikan,” kemungkinan besar kita akan kewalahan, apalagi kalau kita belum bisa ngebayangin dengan jelas langkah-langkah yang perlu ditempuh. Hal ini membuat kita belum apa-apa udah memandang tugas sebagai beban dan sumber penderitaan, sehingga kita pun sedapat mungkin menghindarinya.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya mulailah mengubah cara pandang dari “bagaimana menyelesaikannya?” menjadi “bagian mana yang bisa segera mulai saya kerjakan?” Nggak perlu mikirin apakah kemajuannya signifikan atau nggak, sekecil apapun juga, yang penting ada kemajuan. Dengan mengerjakan bagian kecil demi bagian kecil kan akhirnya semua kerjaan selesai juga.

3. Izinkan diri sendiri membuat kesalahan, baru sempurnakan

Pemikiran bahwa kerjaan harus “sekali jadi beres” akan bikin kita nggak pernah berani mulai. Tekanan untuk langsung menghasilkan sesuatu yang sempurna akan menimbulkan stress yang secara bawah sadar akan kita asosiasikan dengan pekerjaan itu, sehingga kita pun menghindari berurusan dengan sang sumber stress. Baru pada saat terakhirlah pekerjaan itu dikerjakan, karena dengan begitu kita punya alasan bahwa hasilnya nggak sempurna karena kekurangan waktu. Padahal kita sendiri yang ngurangin, wahaha…

Untuk mengatasinya, coba yakinkan diri sendiri bahwa dalam proses pengerjaan kita boleh membuat kesalahan, dan kesalahan itu bisa kita perbaiki sampai hasilnya memuaskan. Hasil yang penuh kekurangan tapi selesai sekarang jauh lebih baik daripada hasil sempurna yang tidak pernah dimulai. Seperti pada poin 2 di atas, membuat sesuatu yang kasar lalu menyempurnakannya sedikit demi sedikit kan lama-lama jadi sempurna juga. Iya kan? Hehe.

4. Sediakan waktu bersenang-senang dulu

Kalau mikirin kerjaan, seringkali yang kebayang adalah kita harus kerja rodi habis-habisan, nggak sempat tidur, nggak sempat makan, nonton, jalan-jalan, pacaran, main game… Yah nggak heranlah kalau kita langsung jadi males, haha.

Gimana solusinya? Sediain waktu senang-senangnya aja dulu, baru selipin waktu kerja di antaranya. Mungkin awalnya terkesan nggak produktif, tapi ternyata cara ini efektif lho! Jadi sediain dulu waktu buat tidur, makan, nonton, jalan-jalan, pacaran, main game (copy-paste dari atas :-P ), baru pakai waktu sisanya buat kerja. Lebih bagus lagi kalau dalam seminggu kita bisa nyediain hari yang full buat main.

Dengan terbatasnya waktu kerja ini, kita akan merasa bahwa waktu kita nggak dikuasai sama kerja, dan waktu kerja itu sesuatu yang berharga. Waktu yang berharga itu pun akan kita manfaatkan seefektif mungkin.

5. Lakukan pengkotakan waktu

Pengkotakan waktu (timeboxing) terutama efektif kalau kerjaannya termasuk berat atau nggak enak dikerjain. Caranya begini: pertama-tama, sediain waktu 30 menit untuk ngerjain suatu bagian dari kerjaan. Setelah itu, tentuin hadiah buat diri sendiri setelah 30 menit itu habis, misalnya jalan-jalan, nonton, main game, nelepon kecengan, atau apa aja. Sebanyak atau sesedikit apapun yang berhasil kita kerjain dalam 30 menit, hadiah itu tetap boleh kita ambil.

Nah, karena kita udah tahu bahwa dalam 30 menit kita akan melakukan sesuatu yang menyenangkan, perhatian kita akan terpusat pada kesenangan itu. Bayangan kesenangan jangka pendek ini bisa sangat menaikkan semangat kita, sehingga bisa jadi tanpa sadar kita keasyikan kerja sampai lebih dari 30 menit. Ya bagus, haha. Setelah 30 menit (atau lebih), ambil hadiah buat diri sendiri tadi, terus sediain waktu 30 menit lagi dengan hadiah yang lain.

Adanya hadiah yang bisa kita dapat dari hanya menyediakan waktu kerja, bahkan tanpa harus benar-benar menghasilkan sesuatu, secara bawah sadar akan membuat kita mengasosiasikan waktu kerja dengan kesenangan setelahnya, dan membuat kita lebih semangat untuk kembali ke pekerjaan dan mendapatkan hadiah untuk waktu yang kita berikan.

Tertarik mencoba? Ayo berusaha sama-sama! ;-)

Tinggalkan sebuah Komentar