
The Utility Who Cried Blackout..
Juni 12, 2008Suatu hari ada sebuah lembaga berinisial PLN yang sedang setengah mengantuk mengawasi penduduk menggunakan listrik dengan gembira. Untuk menghilangkan bosan, ia menarik napas dalam-dalam dan berteriak, “Pemadaman! Pemadaman! Jam 14 sampai jam 21!”
Penduduk yang mendengarnya bergegas mematikan peralatan listrik dan membackup data agar dapat melanjutkan pekerjaannya di tempat lain. Tetapi ternyata listrik terus menyala, dan si lembaga tertawa puas melihat wajah kesal mereka.
“Jangan teriak-teriak pemadaman, kalau nggak ada pemadaman!” kata penduduk yang kesal sambil menyalakan kembali lampu-lampu dan perangkat listrik mereka.
Beberapa lama kemudian, si lembaga kembali berteriak, “Pemadaman! Pemadaman! Jam 7 sampai jam 14!” Sambil tertawa geli ia menyaksikan penduduk kembali bergegas mematikan peralatan listrik, dan panik menghubungi anggota keluarga dan teman serumah mereka.
Saat menyadari tak ada pemadaman, mereka kembali mengumpat PLN, “Simpan suaramu bila memang ada masalah! JANGAN teriak pemadaman bila ternyata tidak ada!”
Si lembaga hanya tertawa melihat penduduk pergi sambil menggerutu.
Tetapi kemudian terjadi gangguan pada sistem pembangkit listrik, dan listrik harus dipadamkan. Sang lembaga pun berteriak, “Pemadaman! Pemadaman!!”
Tapi kali ini penduduk sudah tidak lagi percaya padanya, dan tetap beraktivitas seperti biasa. Dan mereka pun terkejut saat TV, komputer, PlayStation, dan lampu-lampu mereka padam.
Dengan marah mereka pun mendatangi PLN dan memaki-makinya habis-habisan. Setelah mereka pergi, PLN duduk sambil menangis, “Kan saya sudah bilang akan ada pemadaman! Kenapa mereka tetap marah-marah kepada saya gara-gara kerugian milyaran rupiah dan data TA yang jadi error?”
Seorang sesepuh pun mendatanginya dan duduk di sebelahnya. “Kami akan mencoba mengurangi konsumsi listrik, melihat pasokan yang sudah semakin kritis,” katanya sambil merangkul bahu si lembaga. “Tak ada yang mempercayai seorang pembohong, bahkan saat ia berkata benar!”
[Diadaptasi dari "The Boy Who Cried Wolf" dari koleksi Aesopica]





