Arsip untuk Mei, 2009

h1

Don’t be afraid to be childish..

Mei 7, 2009

Critics who treat “adult” as a term of approval, instead of as a merely descriptive term, cannot be adults themselves. To be concerned about being grown up, to admire the grown up because it is grown up, to blush at the suspicion of being childish; these things are the marks of childhood and adolescence….When I was ten, I read fairytales in secret and would have been ashamed if I had been found doing so. Now that I am fifty I read them openly. When I became a man, I put away childish things, including the fear of childishness and the desire to be very grown up.”

C. S. Lewis, On Three Ways of Writing for Children

Jadi justru orang yang suka bilang orang lain childish itu yang childish ya, wahaha..

Lagipula kalau menurut gua sih kedewasaan itu masalah tanggung jawab dan kemampuan sosial, bukan selera bacaan, musik, tontonan, dll… Soal kemampuan sosial ini, ada artikel yang menyatakan bahwa Internet membuat kemampuan itu semakin berkurang zaman sekarang, salah satunya karena Internet mengurangi perlunya toleransi. Baca deh kalau sempat..

h1

Kenangan Manisku

Mei 4, 2009

KENANGAN MANISKU

Entah mengapa, aku merasa hari ini tidak seperti hari-hari biasa. Saat aku masuk ke kelas, teman-teman sudah mulai menatapku aneh. Sepanjang pelajaran mereka terus mencuri-curi pandang, saling berbisik, terutama yang cowok. Saat salah satu dari mereka yang berbadan besar dan berambut gondrong menatapku dengan liar dan tersenyum menyeringai, aku mulai merinding. Ada apa dalam pikiran mereka?

Saat pelajaran berakhir, firasatku terbukti. Tiba-tiba saja sekelompok anak cowok mendatangiku dan memegangi tangan dan kakiku. Si gondrong memegangi kedua kakiku, kulihat napasnya sudah memburu. Yang lainnya berkeliling dan menonton sambil berteriak-teriak liar. Aku berusaha berontak tapi cengkeraman mereka terlalu kuat. Mereka mulai menggerayangi tubuhku, melucuti pakaianku satu persatu, dan merampas barang-barang yang kubawa. Aku terus meronta, tapi hatiku tahu itu sia-sia, aku hanya bisa pasrah…

“Hentikan! Hentikan!” Hanya jeritan yang keluar dari mulutku saat mereka mulai menggoyang tubuhku. Kuakui, aku mulai menyukai perasaan ini, tapi jauh di dalam hatiku aku merasa ini salah. Suatu tindak pemaksaan. Goyangan mereka semakin kuat, sementara rontaanku semakin melemah… Aku tak tahan lagi… Aku merasa melayang… Sekujur tubuhku terasa basah dan lemas… Tapi ada kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya…

Dengan tubuh dan pakaian (yang masih terpasang) basah kuyup, aku pun keluar dari Kolam Indonesia Tenggelam, diiringi tepukan dan nyanyian lagu “Selamat Ulang Tahun”. Mau tak mau aku tersenyum. Inilah ulang tahun pertamaku sebagai mahasiswa.

Hihihi, mikir apa tuh…?

h1

Lagu mengheningkan cipta..

Mei 1, 2009

Barusan gua tiba-tiba kepikir: kok bisa ada lagu “Mengheningkan Cipta” ya? Yang awalnya “Dengar seluruh angkasa raya memuja pahlawan negara…” itu…

Padahal kalau menurut gua sih, harusnya kalau lagi mengheningkan cipta (moment of silence), semuanya ya… hening. Nggak ada yang bersuara. Tujuannya kan emang untuk secara singkat merenung atau berdoa.

Tapi ternyata di negara lain pun ada juga kebiasaan serupa, misalnya membunyikan lonceng, melepas burung merpati atau balon, atau mainin lagu instrumental kaya di sini. Kalau di pertandingan sepak bola di Inggris malah moment of silence diisi sama tepuk tangan semua pendukung tim yang mengheningkan cipta, tapi itu jelas tujuannya biar nggak diganggu pendukung tim lawan.

Kalau menurut pembaca gimana? Apa esensi dari mengheningkan cipta, dan kenapa kadang-kadang malah jadi sama sekali nggak hening?