Arsip untuk ‘cerita’ Kategori

h1

Malam yang Tak Biasa

Juli 22, 2009

Nadia terus berjalan menembus kegelapan malam, angin yang dingin menusuk ke tulang sumsum. Aneh. Tak seperti biasanya, jalan yang biasa ia lewati itu lengang, tak ada tukang bakso maupun anak muda berkumpul. Cuma suara jangkrik dan nyanyian kodok yang sayup-sayup terdengar.

Sampai depan rumah. “KRING!” Ia menekan bel, tapi tak ada yang membukakan pintu. Dicobanya menekan bel lagi, tapi pintu itu tetap bergeming. Mulai cemas, Nadia mencoba menelepon Papa, Mama, dan adiknya menggunakan ponsel. ”Tut-tut-tut-tut…” Karena tidak ada sepeser pun uang tersisa, Nadia memutuskan untuk ke rumah Dagmar, tetangganya.

“Ting tong!” Nadia menekan bel rumah Dagmar. Hening. Kini Nadia benar-benar bingung dan ketakutan, ia pun berlari keliling kompleks untuk mencari keluarga, teman main, siapapun yang dikenalnya. Tak terasa ia sudah sampai di pusat perbelanjaan kompleksnya. Sambil terengah mengatur napas, sayup-sayup ia mendengar suara keramaian dan musik yang meriah, dan begitu tidak asing di telinganya. Penasaran, ia berjalan mendekati sumber suara itu; ternyata ada Mbah Surip sedang manggung, dan terlihat keluarganya dan Dagmar asyik berjoget mengikuti alunan lagu. Alhamdulillah…

(Catatan: cerita ini dibuat untuk tugas kuliah Keamanan Informasi Lanjut dari Pak BR. Silakan dipikirkan apa artinya ;-) )

h1

Kenangan Manisku

Mei 4, 2009

KENANGAN MANISKU

Entah mengapa, aku merasa hari ini tidak seperti hari-hari biasa. Saat aku masuk ke kelas, teman-teman sudah mulai menatapku aneh. Sepanjang pelajaran mereka terus mencuri-curi pandang, saling berbisik, terutama yang cowok. Saat salah satu dari mereka yang berbadan besar dan berambut gondrong menatapku dengan liar dan tersenyum menyeringai, aku mulai merinding. Ada apa dalam pikiran mereka?

Saat pelajaran berakhir, firasatku terbukti. Tiba-tiba saja sekelompok anak cowok mendatangiku dan memegangi tangan dan kakiku. Si gondrong memegangi kedua kakiku, kulihat napasnya sudah memburu. Yang lainnya berkeliling dan menonton sambil berteriak-teriak liar. Aku berusaha berontak tapi cengkeraman mereka terlalu kuat. Mereka mulai menggerayangi tubuhku, melucuti pakaianku satu persatu, dan merampas barang-barang yang kubawa. Aku terus meronta, tapi hatiku tahu itu sia-sia, aku hanya bisa pasrah…

“Hentikan! Hentikan!” Hanya jeritan yang keluar dari mulutku saat mereka mulai menggoyang tubuhku. Kuakui, aku mulai menyukai perasaan ini, tapi jauh di dalam hatiku aku merasa ini salah. Suatu tindak pemaksaan. Goyangan mereka semakin kuat, sementara rontaanku semakin melemah… Aku tak tahan lagi… Aku merasa melayang… Sekujur tubuhku terasa basah dan lemas… Tapi ada kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya…

Dengan tubuh dan pakaian (yang masih terpasang) basah kuyup, aku pun keluar dari Kolam Indonesia Tenggelam, diiringi tepukan dan nyanyian lagu “Selamat Ulang Tahun”. Mau tak mau aku tersenyum. Inilah ulang tahun pertamaku sebagai mahasiswa.

Hihihi, mikir apa tuh…?

h1

The Utility Who Cried Blackout..

Juni 12, 2008

Suatu hari ada sebuah lembaga berinisial PLN yang sedang setengah mengantuk mengawasi penduduk menggunakan listrik dengan gembira. Untuk menghilangkan bosan, ia menarik napas dalam-dalam dan berteriak, “Pemadaman! Pemadaman! Jam 14 sampai jam 21!”

Penduduk yang mendengarnya bergegas mematikan peralatan listrik dan membackup data agar dapat melanjutkan pekerjaannya di tempat lain. Tetapi ternyata listrik terus menyala, dan si lembaga tertawa puas melihat wajah kesal mereka.

“Jangan teriak-teriak pemadaman, kalau nggak ada pemadaman!” kata penduduk yang kesal sambil menyalakan kembali lampu-lampu dan perangkat listrik mereka.

Beberapa lama kemudian, si lembaga kembali berteriak, “Pemadaman! Pemadaman! Jam 7 sampai jam 14!” Sambil tertawa geli ia menyaksikan penduduk kembali bergegas mematikan peralatan listrik, dan panik menghubungi anggota keluarga dan teman serumah mereka.

Saat menyadari tak ada pemadaman, mereka kembali mengumpat PLN, “Simpan suaramu bila memang ada masalah! JANGAN teriak pemadaman bila ternyata tidak ada!”

Si lembaga hanya tertawa melihat penduduk pergi sambil menggerutu.

Tetapi kemudian terjadi gangguan pada sistem pembangkit listrik, dan listrik harus dipadamkan. Sang lembaga pun berteriak, “Pemadaman! Pemadaman!!”

Tapi kali ini penduduk sudah tidak lagi percaya padanya, dan tetap beraktivitas seperti biasa. Dan mereka pun terkejut saat TV, komputer, PlayStation, dan lampu-lampu mereka padam.

Dengan marah mereka pun mendatangi PLN dan memaki-makinya habis-habisan. Setelah mereka pergi, PLN duduk sambil menangis, “Kan saya sudah bilang akan ada pemadaman! Kenapa mereka tetap marah-marah kepada saya gara-gara kerugian milyaran rupiah dan data TA yang jadi error?”

Seorang sesepuh pun mendatanginya dan duduk di sebelahnya. “Kami akan mencoba mengurangi konsumsi listrik, melihat pasokan yang sudah semakin kritis,” katanya sambil merangkul bahu si lembaga. “Tak ada yang mempercayai seorang pembohong, bahkan saat ia berkata benar!”

[Diadaptasi dari "The Boy Who Cried Wolf" dari koleksi Aesopica]

h1

Suatu pagi di BEC..

Juni 8, 2008

Tiap hari pengaturan eskalator turun dan naik di Bandung Electronic Centre ditukar-tukar. Hal ini bertujuan agar setiap toko mempunyai kesempatan dalam minggu itu untuk dilewati oleh pengunjung yang baru naik, bukan hanya yang mau turun dan pulang dan sudah tidak mau membeli apa-apa. Walaupun hal ini seringkali membuat pengunjung bingung, pusat belanja perangkat elektronik itu tetap tak pernah sepi, sehingga manajemen tidak merasa perlu mengubah hal ini demi kenyamanan pengunjung.

Pagi itu, seperti biasa dua orang teknisi eskalator berada di BEC, untuk segera melakukan tugasnya. Bedanya dengan pagi-pagi lain, kali ini kedua teknisi adalah pegawai baru, yang masih punya “idealisme,” setidaknya menurut versi mereka.

Roy: Oi Sur, hari ini enaknya eskalator yang naik mana, yang turun mana? Kan kalau cuma ditukar dari yang kemarin bisa jadi ketebak sama pengunjung!

Suryo: Kita undi aja! Nih aku punya koin!

Tuing..

Suryo: Yes, gambar! Berarti.. berarti.. Lho berarti apa ya?

Roy: Aduh, gimana sih?! Kita belum tentuin mau eskalator yang kiri atau yang kanan! OK, berarti kalau gambar yang kanan!

Tuing..

Suryo: Gambar, burung garuda!

Roy: Horeee! … Lho, bukannya di sisi satunya gambar juga ya? Wah nggak fair! Tetapin dulu, untuk yang kanan gambarnya garuda! Jadi untuk [eskalator] yang kiri gambarnya kakatua raja! (koin Rp100 -pen.)

Tuing..

Suryo: Tuh, kakatua! Kita ubah eskalator yang kiri!

Roy: Nah, sip sip.. Eh eh, tunggu dulu! Yang kiri itu.. Buat naik atau turun?

Suryo: Hm.. apa ya? Ke atas aja!

Roy: Nggak bisa, nggak bisa! Bisa aja dari awal kamu emang maunya yang kiri ke atas! Ya udah, kita tos lagi! Yang gambarnya muncul kita bikin naik!

Tuing..

Suryo: Tuh, kakatua lagi! Lagian kamu ngeyel melulu.. (mencibir)

Roy: Ya udah, yang penting kan fair.. (mulai berjalan menuju eskalator, tapi berhenti) Eh tunggu dulu Sur.. kalau kita ngehadap ke arah sini, yang kiri yang ini (menunjuk ke kiri), tapi kalau ngehadap sini (berbalik 180 derajat) yang kiri yang ini (menunjuk ke kiri lagi) kan? Kita pakai yang mana dong?

Suryo: AARRGH! (memegangi kepala dengan frustrasi) Kalau gitu kita tetapin semuanya! Kalau keluar gambar KAKATUA, kita bikin eskalator yang KIRI, yang INI (menunjuk eskalator yang kiri kalau dilihat dari sisi depan gedung), gerak ke ATAS! Kalau muncul gambar garuda yang kiri gerak ke bawah!

Tuing…

Akhirnya, eskalator yang kiri dari depan gedung diatur agar bergerak ke atas. Kedua teknisi pun berjalan keluar untuk sarapan.

Suryo: Kalau tiap pagi harus begini ribet juga ya, Roy! Gimana dong solusinya?

Roy: (berpikir keras selama beberapa menit.. kemudian tiba-tiba menjentikkan jari) Ah gini aja! Berarti mulai besok.. Kita undi pakai DADU!

:-P :-P :-P