Arsip untuk ‘opini’ Kategori
Desember 26, 2009
Waktu lagi jalan-jalan di BEC beberapa waktu lalu, gua melihat poster ini.

Ada yang aneh?
Lho, kok dia bisa ngomong gitu? Bukannya tujuan dari memblokir pornografi itu biar anak di bawah umur nggak usah tahu sebelum cukup umur ya? Kenapa anak ini malah udah ngerti? Wahahaha…
Lebih masuk akal kalau di poster itu ada gambar ibu dari anak-anak itu, menyaksikan mereka browsing dengan penuh kasih sayang, dan kata-katanya, “Anak-anakku kini terlindung dari pornografi” atau semacamnya…
Ditulis dalam isu sosial, jalan-jalan, lucu-lucuan | Bertanda anak-anak, iklan, internet, poster | 1 Komentar »
Agustus 30, 2009

AT4, peluncur roket andalan NATO saat ini
Mungkin karena kebanyakan main game kaya Grand Theft Auto IV atau Killzone 2, kalau melihat sesuatu yang bikin gua kesel, salah satu fantasi gua adalah meluncurkan roket ke sesuatu itu (waha, kalau Jack Thompson ketemu gua pasti gua dianggap “korban simulator pembunuhan”). Di sini gua cantumin beberapa hal yang perlu diroket.
- Angkot yang ngetem lebih dari 5 menit. WUUSH… BLAR! 5 menit aja sebenarnya udah kelamaan. Seringkali ini disebabkan oleh…
- … kenek yg suka nahan-nahan si supir angkot kalau ada orang lewat, padahal si supir angkot udah mau jalan, dan orang lewat itu belum tentu mau naik angkotnya, kadang-kadang justru karena angkotnya ngetem. WUSSSH… BLAR! Yang kaya gini cocoknya pakai hulu ledak napalm biar gosong.
- Motor yang pake knalpot racing, ngebut, nyelip-nyelip, terus kalau nabrak mobil pasti nyalahin mobilnya walaupun seringan dia sendiri yang salah. Selain bikin jalan jadi nggak aman, yang paling nyebelin adalah BERISIKNYA ITU. Pingin liat berapa lama dia bisa menghindar dari kejaran roket atau rudal pencari panas kaya rudal TOW (Tube-launched, Optically tracked, Wire-guided), wahahahahaha… WUSSSH… BLAR! Kalau naik motornya rame-rame sama gengnya, ini juga enak pakai napalm.

RPG-7, peluncur roket dari Uni Soviet
- Mall atau pusat perbelanjaan yang menjamur dan terlalu dekat sama mall lain di Bandung. Contoh yang paling gampang itu yang lagi dibangun di Balubur. Argh, udah ngerusak pemandangan, ganti rugi bermasalah, terlalu dekat sama Pasar Balubur lagi. Mumpung gedungnya belum jadi, lebih gampang buat ngebidik fondasi-fondasinya. WUSSH… BLAR!
- Mobil yang hobi main klakson terus nyalip-nyalip juga nyebelin. WUSSH… BLAR!
BTW judul post ini diambil dari pakem industri game AS, menurut seorang praktisi di sana. Rockets = banyak ledakannya, realism = serealistik mungkin, rights = dapatkan lisensi dari film, novel, dll. biar pembeli mudah merasa familiar. Menurut dia juga, pakem industri game Jepang itu fun, fantasy (cerita yang fantastis dan mendalam), freedom (desainer bebas berkreasi, membuat game yang aneh-aneh pun boleh).
Ditulis dalam curhat, isu sosial, kehidupan, letupan | Bertanda bandung, geng motor, industri game, motor, roket | 1 Komentar »
Mei 7, 2009
Critics who treat “adult” as a term of approval, instead of as a merely descriptive term, cannot be adults themselves. To be concerned about being grown up, to admire the grown up because it is grown up, to blush at the suspicion of being childish; these things are the marks of childhood and adolescence….When I was ten, I read fairytales in secret and would have been ashamed if I had been found doing so. Now that I am fifty I read them openly. When I became a man, I put away childish things, including the fear of childishness and the desire to be very grown up.”
–C. S. Lewis, On Three Ways of Writing for Children
Jadi justru orang yang suka bilang orang lain childish itu yang childish ya, wahaha..
Lagipula kalau menurut gua sih kedewasaan itu masalah tanggung jawab dan kemampuan sosial, bukan selera bacaan, musik, tontonan, dll… Soal kemampuan sosial ini, ada artikel yang menyatakan bahwa Internet membuat kemampuan itu semakin berkurang zaman sekarang, salah satunya karena Internet mengurangi perlunya toleransi. Baca deh kalau sempat..
Ditulis dalam isu sosial, quote, situs | Bertanda kedewasaan | 4 Komentar »
Mei 1, 2009
Barusan gua tiba-tiba kepikir: kok bisa ada lagu “Mengheningkan Cipta” ya? Yang awalnya “Dengar seluruh angkasa raya memuja pahlawan negara…” itu…
Padahal kalau menurut gua sih, harusnya kalau lagi mengheningkan cipta (moment of silence), semuanya ya… hening. Nggak ada yang bersuara. Tujuannya kan emang untuk secara singkat merenung atau berdoa.
Tapi ternyata di negara lain pun ada juga kebiasaan serupa, misalnya membunyikan lonceng, melepas burung merpati atau balon, atau mainin lagu instrumental kaya di sini. Kalau di pertandingan sepak bola di Inggris malah moment of silence diisi sama tepuk tangan semua pendukung tim yang mengheningkan cipta, tapi itu jelas tujuannya biar nggak diganggu pendukung tim lawan.
Kalau menurut pembaca gimana? Apa esensi dari mengheningkan cipta, dan kenapa kadang-kadang malah jadi sama sekali nggak hening?
Ditulis dalam letupan, musik, opini | Bertanda mengheningkan cipta | 2 Komentar »
Februari 20, 2009
Pemakaian kata ’secara’ untuk menggantikan ‘berhubung’…
Penggunaan huruf e sebelum r yang nggak perlu, misalnya pada ‘Inggeris’ dan ‘isteri’…
Menulis di sebagai kata depan ketika digunakan untuk menandakan kata kerja pasif (misalnya ‘di makan’…)
Kesalahan-kesalahan di atas belum tuntas ditanggulangi, sekarang ada lagi salah kaprah berbahasa Indonesia yang mulai sering terjadi. Emang sih, gua bukan orang yang biasa atau ingin memakai bahasa baku dalam kehidupan sehari-hari. Lihat aja blog ini. Tapi gua percaya ada saat-saat di mana bahasa Indonesia yang baik dan benar mutlak harus digunakan, dan gua termasuk orang yang terganggu kalau melihat tata bahasa tulisan yang kacau, apalagi di koran atau media massa lainnya.
Di bahasa Indonesia kan ada akhiran -itas atau -asi yang diserap dari akhiran -ity dan -ation dalam bahasa Inggris. Entah kapan dan di mana, tiba-tiba ada yang merasa kalau suatu kata berhuruf terakhir f dikonjugasikan dengan akhiran ini, kata dasarnya nggak perlu diganti jadi berakhiran v. Dan banyak orang mengikuti pemikiran ini.
Jadinya, mulailah orang menulis ‘aktifitas’ bukannya ‘aktivitas’, ‘motifasi’ bukannya ‘motivasi’.
Karena merasa ini aneh, gua pun memeriksa KBBI Daring (dalam jaringan, bahasa Indonesia dari online). Harusnya kan Kamus Besar Bahasa Indonesia jadi acuan utama bahasa Indonesia ya. Hasilnya? Nggak ada tuh kata ‘aktifitas’ ataupun ‘motifasi’. Yang ada tetap ‘aktivitas’ dan ‘motivasi’. Kalau nggak percaya silakan cek sendiri..
Karena itu ingatlah pembaca, ejaan yang benar itu ‘aktivitas’, sesuai kata aslinya ‘activity’, dan ‘motivasi’ seperti ‘motivation’. OK?
Ditulis dalam kehidupan, opini, situs | Bertanda bahasa Indonesia, KBBI, salah kaprah | 6 Komentar »
Juni 21, 2008
Adakah di antara teman2 sekalian yang senantiasa menjadi langganan nilai C dalam mata kuliahnya? Zaman sekarang sudah banyak diketahui bahwa karena mendapat nilai C untuk S1, bisa berdampak sulitnya mencari pekerjaan setelah lulus karena IPKnya kurang dari 3.
Pada sejumlah kasus nilai C yang didapatkan adalah karena suatu nasib sial atau hal lain yang disebabkan oleh karena kurang transparan, kurang terkomunikasi bahkan kurang konsistennya sistem penilaian mata kuliah yang bersangkutan. Sehingga semestinya nilai C yang didapatkan mahasiswa logisnya dapat dicegah dengan berbagai metoda baik dengan optimalisasi komunikasi dosen mahasiswa maupun pemberian kesempatan ujian perbaikan bagi yang betul2 serius dan sungguh2 memperoleh prestasi yang baik. Karena pada dasarnya nilai buruk yang didapat adalah akibat kurangnya pemahaman dan kemampuan memahami persoalan.
Namun pada kenyataannya semua dosen ITB hampir selalu tidak mempedulikan hal ini,mereka jauh lebih senang membiarkan dan melihat mahasiswanya hidup dalam keterpurukan,kesengsaraan dan kesialan yang mendalam, apapun alasannya. Kalaupun dosen memberikan kesempatan ujian perbaikan nilai yang akan didapat mahasiswa yang mengikutinya maksimal hanya C saja, tidak lebih sama sekali.
Sekarang dapat dilihat bahwa prodi yang sebelumnya bereputasi baik dan toleran terhadap kondisi psikis dan mental mahasiswanya seperti Teknik Fisika pada kenyataannya baru-baru ini mulai mengikuti jejak prodi lain yang menerapkan penghargaan buruk dan kekerasan psikis kepada mahasiswanya dengan tidak memperhatikan mempedulikan dan bersikap acuh tak acuh terhadap nasib akademik para mahasiswanya. Semestinya jika dilakukan metoda yang tepat dan optimal maka mahasiswa yang semula hanya layak dihargai nilai B pun semestinya layak untuk mendapat nilai A dalam setiap mata kuliah yang diambil.
Padahal bukankah penghargaan terhadap pribadi amat berperan dalam pembentukan karakter masa depan seseorang ?
Dan dapat mencegah tidakan perilaku2 kekerasan dan kepribadian menyimpang di kemudian hari. Bukankah itu juga tugas utama ITB beserta segenap prodinya sebagai institusi pendidikan ?
Racauan di atas dikutip dari salah satu forum online internal di kampus ITB. Sengaja gua masukin ke blog ini biar nggak keburu dihapus sama admin..
Huuh, inilah potret kemerosotan mental anak-anak angkatan baru.. Baru rantai karbon (-C-C-C-
) aja udah marah-marah? Nggak tahu ya, banyak yang rantai E tapi nggak marah-marah kaya dia? (curcol
) Dia ini baru nyentuh permukaannya aja udah kaya gini..
Kayanya ini salah satu akibat dari berkurangnya intensitas kaderisasi mahasiswa. Orang-orang di atas sana cuma ngeliat kaderisasi seakan-akan perploncoan aja, kultur negatif yang perlu dihapus.. Padahal ini ITB dan kami terlalu cerdas untuk mengkader hanya dengan maksud menyiksa dan menekankan senioritas! Yang gua liat, sebagian besar mahasiswa ITB juga ngerasain manfaat kaderisasi kok, walaupun baru setelah itu semua berakhir.. Waktu ngejalaninnya emang banyak sebelnya sih, hehe.
Semoga nggak banyak angkatan muda yang kaya gini mentalnya, berharap kemudahan dari dosen, maunya dipeduliin kaya anak TK.. Seorang asisten dosen juga pernah bilang, perbedaan anak ITB dengan kampus lain sebenarnya di semangat juang. Gua nggak mau itu berubah, tentunya kalau ke arah yang jelek (lho, kok kaya Bambang Utoro (pemilik situs bikinduit.com)?
)
For God, nation, and alma mater! Liberty!
Ditulis dalam kampus, letupan, opini | Bertanda kaderisasi, kemunduran mental, tpb | 7 Komentar »
Juni 13, 2008
Atau, jangan-jangan post-capitalism adalah communism?
Kalimat di atas muncul pada salah satu comment di blog Pak Armein Z. R. Langi, peneliti TIK (teknologi informasi dan komunikasi) terkemuka dan salah satu dosen gua (yang kebetulan sama beliau gua berhasil lulus PSD. Makasih Pak!
)
Begitu ngeliat kalimat itu, otak gua langsung menganalisis tanpa diminta. Kepala gua terasa berat, kaya mau meledak. Seperti ada tekanan dari lonjakan pemikiran yang mau menyembur keluar..
Pokoknya selama sekitar setengah menit, gua hampir kehilangan kewarasan. Hiiy.
Yah, untungnya akhirnya otak gua berhasil menginterpretasi kalimat itu sebelum kewarasan benar-benar hilang. Kesimpulan gua:
Semua ideologi pada dasarnya adalah alat untuk melakukan kontrol sosial. Komunisme menerapkan tangan besi sejak awal, tetapi kita telah lihat bahwa itu nggak sustainable. Kapitalisme pada awalnya memberikan kesempatan yang sama pada semua orang, tetapi setelah terbentuk suatu oligopoli, perlahan-lahan struktur sosial akan berevolusi menjadi tangan besi juga. Bedanya kali ini kekuasaan tangan besi itu lebih sustainable, karena masyarakat masih terbuai dengan kebebasan yang sebenarnya hanya ilusi.
Ngawur? Yah namanya juga analisis penyelamat kewarasan, hehe..
Ada pendapat yang lebih bermutu?
[NB: BTW, artikelnya Pak Armein benar-benar menyentak lho! Ayo dibaca!]
Ditulis dalam letupan, opini, situs, teknologi | Bertanda ideologi, kapitalisme, komunisme, kontrol sosial | Leave a Comment »
Maret 14, 2008
Penyelundupan itu bisnis yang menggiurkan. Dengan nggak usah bayar bea import, nyogok petugas Bea Cukai, dll, keuntungan yang bisa didapat penyelundup jauh lebih besar dibanding melalui jalur-jalur legal.
Makanya negara biasanya cukup galak menghadapi kasus penyelundupan. Barang selundupan yang berhasil disita, biasanya juga dimusnahkan. Tapi kayanya kejadian di Filipina yang ditampilin di video ini jauh sangat-sangat berlebihan deh:
WUAAAAAA!!! Akhirnya nggak tahan juga gua.. WUAAA!!! Masa BMW X5 sama Lincoln Navigator digusruk?? Barang-barang keren senilai US$ 700.000 diremukin gitu aja. Huaaaaa… Mendingan buat gua deh, atau paling nggak dilelang kek di luar negeri biar duitnya bisa dipakai buat bantu rakyat miskin. Kaya di Filipina udah nggak ada orang miskin aja… Adanya Leah Dizon
Omong-omong tentang mobil, ternyata ada juga orang bikin Ferrari palsu buat yang mau gaya. Ferrari palsu ini, atau FAUX-rari, juga dipamerin waktu Global Anti-Counterfeit Summit di Brussels, tanggal 10 Maret yang lalu. Nih fotonya…
Hm, tapi gua jadi mikir juga tentang pemusnahan barang ilegal lain kaya gula, beras, sama pakaian bekas. Perlu nggak sih? Kan kalau disumbangin lewat badan amal gitu nggak ngerugiin siapa-siapa. Biasanya juga orang ngasih kan barang-barang yang udah nggak dia pakai buat disumbangin?
Daripada berharap belas kasihan orang-orang yang udah makin pelit, bisa aja deh kayanya disumbangin, toh pedagang yang legal nggak rugi karena yang dapat pakaian gratis juga orang-orang yang nggak bisa beli dari mereka…
Atau ada pendapat lain? Bagi-bagi dong…
Ditulis dalam berita, opini, situs, video | Bertanda mobil, ferrari, penyelundupan, model, rakyat miskin, filipina | 4 Komentar »
Februari 11, 2008
There’s no escaping reason, no denying purpose, because as we know, without purpose, we would not exist.
-Agent Smith (diperankan Hugo Weaving), The Matrix Reloaded
Konon katanya, Tuhan tidak pernah menciptakan makhluk apapun dengan sia-sia. Semua makhluk punya tujuan kenapa ia diciptakan. Bahkan nyamuk, ulat kaki seribu, dan kecoa sekalipun (walaupun yg terakhir itu gua nggak tahu sampai sekarang, wahaha).
Kalau tujuan manusia diciptakan? Wah, yang ini bisa banyak penjelasannya, ada dari aspek ekonomi, agama, sosial, dan lain-lain.
Kalau buat gua sendiri sih, tujuan gua sekarang nyelesaiin TA. Dalam jangka panjang, jadi orang yang membuat perubahan di dunia, paling nggak di Indonesia.
Intinya mau ngomong itu doang sih. Hehe.
Ditulis dalam kehidupan, letupan, opini, quote | Bertanda agent smith, matrix, tujuan | 2 Komentar »